Istilah "metaverse" mengacu pada dunia virtual, sering digambarkan dalam fiksi ilmiah, yang terdiri dari jaringan luas ruang virtual yang saling terhubung, di mana orang dapat berinteraksi satu sama lain dan dengan kecerdasan buatan dengan cara yang mulus dan imersif.

Secara umum, metaverse adalah ruang virtual yang menggabungkan elemen dari dunia fisik dan digital, memungkinkan pengguna untuk mengalami realitas yang melampaui dunia fisik. Konsep ini sering dibayangkan sebagai semacam virtual reality atau dunia maya, di mana orang dapat berinteraksi satu sama lain dan dengan lingkungan dan objek digital dengan cara yang terasa senyata dunia fisik.

Dalam praktiknya, konsep metaverse masih dalam tahap awal pengembangan. Saat ini, pengalaman metaverse paling umum ditemukan dalam bentuk permainan online, di mana pengguna dapat membuat avatar, berinteraksi satu sama lain, dan berpartisipasi dalam petualangan dan pencarian virtual. Contoh lain dari pengalaman metaverse termasuk lingkungan virtual reality, seperti Second Life, serta pengalaman augmented reality (AR), di mana konten digital ditumpangkan pada dunia nyata.

Ada banyak minat dan investasi dalam pengembangan metaverse, karena banyak yang melihatnya sebagai evolusi internet selanjutnya dan perbatasan baru untuk perdagangan, hiburan, dan interaksi sosial. Beberapa orang membayangkan masa depan di mana metaverse menjadi cara utama orang berinteraksi satu sama lain dan dengan konten digital, berpotensi menggantikan dunia fisik sebagai bentuk dominan pengalaman manusia.

VR dan Metaverse

Virtual Reality (VR) memainkan peran penting dalam pengembangan metaverse. Teknologi VR memungkinkan pengguna untuk mengalami lingkungan virtual yang sepenuhnya imersif dan interaktif, mensimulasikan sensasi kehadiran fisik di dunia digital. Kemampuan ini penting untuk menciptakan ilusi metaverse yang mulus dan meyakinkan, di mana pengguna dapat berinteraksi satu sama lain dan dengan objek virtual seolah-olah mereka berada di lingkungan dunia nyata.

Dalam VR, pengguna memakai headset yang menutupi mata dan telinga mereka, menghalangi dunia fisik dan membenamkan mereka sepenuhnya dalam lingkungan virtual. Pengontrol VR digunakan untuk berinteraksi dengan objek dan bernavigasi melalui lingkungan. Pengaturan ini menciptakan ilusi kehadiran yang sangat meyakinkan, di mana pengguna merasa seperti mereka benar-benar hadir di dunia virtual.

Tingkat imersitas ini adalah kunci untuk mewujudkan potensi metaverse sebagai bentuk virtual reality, di mana orang dapat berinteraksi, bekerja, dan bermain di lingkungan virtual yang terasa senyata dunia fisik. VR juga dapat memungkinkan bentuk kreativitas dan ekspresi baru, memungkinkan pengguna untuk menciptakan dan menjelajahi lingkungan virtual yang tidak mungkin ada di dunia fisik.

Teknologi lain dalam ekosistem

Pengembangan metaverse membutuhkan berbagai kemajuan teknologi di luar virtual reality (VR) saja. Beberapa teknologi kunci lain yang dikembangkan secara paralel untuk menciptakan ekosistem metaverse meliputi:

  1. Augmented Reality (AR): Teknologi AR memungkinkan konten digital untuk ditumpangkan pada dunia fisik, menciptakan pengalaman hibrid yang menggabungkan elemen dari dunia nyata dan virtual. AR kemungkinan akan memainkan peran penting dalam metaverse, memungkinkan pengguna untuk mengalami perpaduan mulus antara dunia fisik dan virtual.
  2. Blockchain: Teknologi blockchain kemungkinan akan memainkan peran kunci dalam metaverse dengan menyediakan infrastruktur yang aman dan transparan untuk transaksi dan interaksi dalam lingkungan virtual. Ini juga akan menyediakan cara untuk mengelola aset digital, seperti real estate virtual, mata uang, dan barang koleksi, yang akan menjadi komponen penting dari ekonomi metaverse.
  3. 5G dan Edge Computing: Metaverse akan membutuhkan konektivitas jaringan yang cepat dan andal untuk mendukung persyaratan bandwidth tinggi dan latensi rendah dari pengalaman VR dan AR. Teknologi 5G dan edge computing akan memainkan peran penting dalam memungkinkan pengalaman mulus dan imersif yang diperlukan agar metaverse berfungsi.
  4. AI dan Machine Learning: AI dan pembelajaran mesin akan penting untuk memungkinkan interaksi yang realistis dan responsif antara pengguna dan objek serta lingkungan digital di metaverse. Agen bertenaga AI dan asisten digital juga akan penting untuk memberikan dukungan dan bantuan kepada pengguna di lingkungan virtual.
  5. Spatial Computing: Spatial computing mengacu pada penggunaan teknologi dan pemetaan 3D untuk memahami dan berinteraksi dengan ruang fisik. Teknologi ini akan penting untuk memungkinkan pengalaman VR dan AR yang memiliki kesadaran spasial dan responsif terhadap lingkungan dunia nyata.
  6. Cloud Computing: Metaverse akan membutuhkan daya komputasi yang besar untuk mendukung simulasi dan lingkungan kompleks yang diperlukan untuk menciptakan pengalaman virtual yang meyakinkan dan imersif. Teknologi cloud computing akan menjadi penting untuk memungkinkan infrastruktur yang skalabel dan hemat biaya yang diperlukan agar metaverse berfungsi.